Gunung Everest, gunung tertinggi di dunia. Bagi manusia normal mencapai puncak Everest merupakan tantangan fisik terbesar yang pernah ada. Erik Weihenmayer merupakan sosok yang fenomenal dalam pendakian Gunung Everest. Semenjak Erik mengalami kebutaan, mendaki puncak tertinggi di muka bumi menjadi impian terpendamnya.

“Erik Weihenmayer, Bersama dengan 19 anggota timnya menetapkan tujuan untuk mencapai puncak tertinggi di dunia. Jika berhasil, maka erik akan menjadi yang pertama berhasil mendaki puncak Everest tunanetra pertama’’.

Ketika mulai berpikir untuk mendaki Everest, banyak sekali komentar berdatangan yang mengatakan, kondisi saya akan menyulitkan dan menjadi beban buat anggota tim yang lain atau nanti saya celaka atau akan mencelakakan anggota tim lainnya. Selalu saja ada yang menganggap seperti itu, tapi ada juga yang selalu mau berbagi visi (penglihatan) dengan saya.

Sebagai seorang tunanetra Erik berkata “Saya tidak mungkin mendaki puncak itu seorang diri. tidak semua yang membantu saya mencapai puncak itu selalu berupa teknologi terkini, melainkan berkat dukungan positif dari orang orang yang ada di sekitar saya”.

Pendakian menuju icefall merupakan hari terberat Erik dalam pendakian gunung tersebut, dimana setiap langkah bisa saja berujung maut. Rata-rata waktu yang dibutuhkan pendaki untuk melewati icefall adalah 5 jam. Dimana Erik butuh 13 jam.

“13 jam perjalanan ke icefall itu sama sekali tidak menyenangkan! Erik benar benar kelelahan, itu kelelahan terparah seorang pendaki yang saya lihat! Hidungnya berdarah waktu itu, semua darah yang keluar dari hidungnya membuat bajunya penuh dengan darah. Kepalanya juga nyaris terhantam batu, hampir jatuh sampai dia roboh di dalam tenda. Lalu saya keluar tenda dan menemui anggota tim lain, saya katakan bahwa hal hal seperti ini bisa saja terjadi pada siapa saja. Jadi kecuali kita bisa merubah situasi ini, dan mendaki lebih cepat, kita tak akan bisa mencapai puncak itu. Ternyata di dalam tenda erik tidak tidur, dia mendengarkan pembicaraan saya dari dalam tenda. Lalu belakangan dia katakan pada saya bahwa kejadian itu merupakan titik terendah bagi seorang manusia”

“saya tanya dia apa dia sanggup meneruskan ini? Lalu dia jawab tidak tahu. Lalu saya bilang kalau kamu tidak yakin bisa maka kamu bener tidak akan bisa!” ucap salam satu pendaki (Chris Morris)

“Di hari pendakian puncak, Erik berhasil memulai dari basecamp melewati pos 1 langsung ke pos 2 kurang dari 5 jam, dimana hal itu biasanya hanya dilakukan oleh pendaki yang memiliki kekuatan kaki yang baik. Kami membuat meeting dalam tenda tiap malamnya, karena itu cara terbaik untuk saling berkomunikasi.

“Diatas pos 3 memasuki zona mati dimana tubuh anda berhenti melakukan penyesuaian dengan iklim, ini adalah saatnya mencapai puncak sesegara mungkin”. ucap pendaki lainnya

“Rencananya kami akan mulai pos 4 sekitar jam 20.20 dan melanjutkan pendakian sepanjang malam. Kalau semua berjalan lancar, perkiraan kita tiba di puncak pada keesokan paginya”

“Pada hari pendakian puncak, kami bangun, siap berangkat, semua merasa baik, dan saya merasa dingin! Makin tinggi saya mendaki makin terasa sakit badan saya dan saya tahu ternyata saya terkena malaria dan malaria saya sudah pernah kambuh 8 kali, saya terpapar di afrika awalnya dan itu kambuh terus Ketika saya merasa stress. Ekspedisi ini bukan untuk saya bisa mencapai puncak, tentu itu merupakan keputusan terberat yang pernah saya ambil dalam kehidupan saya. 2 tahun waktu yang saya curahkan untuk ekspedisi ini dan merencanakannya, bermimpi berdiri di puncak Bersama Erik” ucap PV

“Malam itu dia tidak mau membuat pengecualian untuk dirinya, dia sadar dia akan membebani yang lain jika dia lanjut pendakian, PV adalah leader yg baik jadi dia tahu kapan dia harus berhenti” ucap Jeff

“Mike saya tahu kalian sedang menghadapi badai berat saat ini dengan hujan salju dan angin yang kencang. Kalau saya liat dari sini sebentar lagi cuacanya akan lebih cerah. Teruskan saja, dalam sejam cuaca akan Kembali cerah” ucap Kevin

“tentu sangat membantu saat dengar mereka bilang hey sebentar lagi cuaca membaik, lanjutkan pendakian. Lalu di ketinggia 8500 mdpl, Barry berteriak kebawah dan berkata tali tambang kami terkubur salju. Dimana satu2nya cara adalah dengan menggali salju kemudian tarik tambang itu. Kedengarannya mudah, tapi saat dimana anda hanya bernapas dengan hanya sepertiga oksigen yang biasa anda hirup, itu tidaklah mudah. Barangkali sebenernya mereka tidak terlalu butuh tali itu, bisa saja mereka langsung melanjut pendakian tapi mereka tahu Sebagian dari kami membutuhkannya, terutama erik” ucap salah satu pendaki

“Lalu Ketika akan melanjutkan lagi ke sisi puncak selatan, saya berkata dalam hati tidak akan saya biarkan teman buta saya tidak mencapai puncak gunung ini dan sayapun mengawalnya dari belakang” Jeff

Kami sudah di puncak! Saya tidak percaya ini nyata! Kami berhasil kawan! Puncak tertinggi di dunia

“Saat saya tahu Erik berhasil lalu saya dengar yang lainpun berhasil, saya berpikir itu adalah pencapaian tertinggi” PV (Leader)

“Kami semua berhasil dan rasanya itu lebih hebat dripada saya melakukannya sendiri” Chris Morris

Saya tidak berpikir Sebagian manusia ditakdirkan untuk memimpin dan sebagiannya mengikuti saja. Saya pikir, leadership itu ada pada setiap orang. Tim kami mungkin bukan kelompok superstar. Namun mereka mampu maju dan memimpin disaat hal itu perlu dilakukan. Saya tidak berpikir saya berbeda dari orang lainnya, setiap orang memiliki kemampuan serta kehebatan dalam diri mereka serta kemampuan mengatasi ketidakpastian dan juga kemampuan merasakan bagaimana mendaki dalam keadaan buta ucap Erik.

Dari 20 pendaki tim erik yang berangkat, 19 orang berhasil mencapai puncak. Lebih banyak anggota kelompok ini yang berhasil mencapai puncak daripada ekspedisi lainnya dalam sejarah. Ekspedisi ini ikut disponsori oleh federasi nasional untuk orang buta agar menjadi inspirasi orang orang dalam meraih puncak Everest mereka sendiri untuk mengatasi tantangan yang mereka hadapi.